Nilai - Nilai Insan Kamil

Manusia dalam keberadaannya di muka bumi senantiasa berada dalam dua lingkup yaitu dalam lingkup personal (pribadi) dan social. Potensi personal merupakan sebuah inti atau core manusia dalam mencapai kesempurnaan diri nya sebagai insane menuju insan kamil (manusia yang sempurna). Keberadaan insane yang satu merupakan organ yang unik dan beragam. Setiap insan atau personal mempunyai potensi yang diberikan sama oleh Allah dalam rangka beribadah kepadaNya.
Kemampuan Insan akan semakin terasah dan teruji kalau dia dihadapkan dengan insan yang lain dan pada sebuah komunitas yang berada disekeliling dia. Potensi pribadi akan bisa mempengaruhi suasana komunitas akan tetapi tidak sedikit komunitas justru mewarnai pribadi itu sendiri menjadi sebuah budaya. Akan tetapi insan yang unggul dan teruji dapat dengan kuat mempengaruhi komunitas tanpa dia sendiri terpengaruh oleh komunitas itu. Hanya insan yang belum teruji atau lemahlah yang akan terpengaruh oleh lingkungan yang ada.
Keshalehan pribadi atau integritas diri merupakan sebuah pondasi yang penting dan utama dalam merubak diri dan social. Seorang yang shaleh dan teruji dan kuat akan bisa menjadikan komunitas sekitannya shaleh. Nilai-nilai kebaikan dari seseorang yang shaleh belum teruji kalau dia tidak berinteraksi dengan komunitas sebagai makhluk sosial. Tidak hanya dari segi nilai saja yang disebarkan, tetapi dalam sebuah komunitas suasana tolong menolong dan komunikasi biasa bisa memberikan sebuah perubahan yang bertahap.
Perubahan sebuah komunitas berawal dari insan-insan yang berubah menuju keshalehan dan satu sama lainnya saling melengkapi dalam menebarkan keshalehan. Perubahan social memang tidak lah sebentar, akan tetapi memerlukan waktu dan tahapan yang mau tidak mau dikerjakan dengan kesungguhan dan kerja keras yang lama dan berkesinambungan. Perubahan berawal dari perubahan disekitar atau sekelompok orang yang mempunyai alam pikiran yang sama dan saling menghargai diantara perbedaan yang ada dan tidak saling mengganggu dan merusak, dan bertahap menjadi sebuah komunitas yang shaleh.
Sebuah ungkapan yang mungkin bisa dijadikan perenungan yaitu, Jangan lah kita masuk syurga sendirian atau shaleh untuk sendiri saja, tapi ajaklah mereka yang pengen shaleh tapi terjerumus pada kesalahan atau terkesima oleh hinggar bingar duniawi yang menyesatkan. Shaleh untuk kita dan juga untuk orang lain, Tanamkan dalan diri kita keshalehan pribadi dan bersosial. Islam sebagai gagama dan umath, terlibat pertarungan ideologis hampar disemua bidang dan pengaruh. Di antara agama-agama yang ada dalam sejarah, Islam memiliki keistimewaan tersediri. Ia tidak membatasi dirinya pada hubungan manusia dengan Tuhan atau Penyucian jiwa semata (sebagaimana agama Masehi), akan tetapi sekaligus menyatakan dirinya sebagai aliran yang komprehensif yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, dari pandangan filosofisnya tentang alam, hingga pada pedoman kehidupan individual.
D. CARA PENGEMBANGAN FITRAH MANUSIA
Dalam rangka mengembangkan fitrah (potensi) manusia, baik potensi jasmani maupun rohani, secara efektif dapat dilakukan melalui pendidikan. Hal ini berarti bahwa pendidikan merupakan cara yang efektif untuk mengembangkan fitrah manusia tersebut. Dengan proses pendidikan, manusia mampu membentuk kepribadiannya, mentransfer kebudayaannya dari suatu komunitas kepada komunitas lainnya, mengetahui nilai baik dan buruk, dan lain sebagainya.
Untuk menciptakan suasana kondusif bagi terlaksananya proses tersebut, diperlukan bentuk interaksi proses belajar mengajar yang mampu menyentuh dan mengembangkan seluruh aspek manusia (peserta didik). Ketersentuhan seluruh aspek diri manusia akan mempermudah terangsangnya reaksi dan perhatian, serta keinginan peserta didik melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif.
Namun demikian, bila dilihat secara obyektif bentuk interaksi pendidikan yang dikembangkan akhir-akhir ini, terkesan mengalami kegagalan dalam melaksanakan visinya yang ideal. Hal ini dapat dilihat dari ketimpangan kepribadian peserta didik di era ini. Ketika mereka mampu mengembangkan aspek intelektualitasnya, pada waktu bersamaan mereka telah kehilangan aspek sosial dan religisitasnya, atau sebaliknya. Hal ini disebabkan berbagai faktor. Di antara faktor tersebut adalah bahwa bentuk interaksi pendidikan yang ditawarkan masih bersifat parsial dan belum mampu mengembangkan seluruh aspek peserta didik secara integral. Pelaksanaan kebijakannya masih terkesan "paket khusus" dan kurang demokratis. Akibatnya, interaksi yang ditawarkan kurang menarik bahkan membosankan. Bila ini terjadi, maka proses pendidikan tidak akan mampu berjalan secara efektif dan efisien. Fenomena ini terjadi karena pendidik belum mampu mengenal pribadi peserta didiknya secara utuh dan belum terakumulasi pada suatu sistem yang kondusif bagi pengembangan kepribadian peserta didik.
Merujuk kepada makna manusia yang ditunjukkan oleh Allah dalam al-Quran, secara teknis upaya pengembangan fitrah manusia dapat dilakukan dengan cara memformat interaksi pendidikan yang proporsional dan ideal. Dalam hal ini setidaknya ada dua pendekatan yang dapat digunakan, yaitu:
Pertama, pendekatan perkata.
Ketika Allah menggunakan terma al-basyar dalam menunjuk manusia sebagai makhluk biologis, maka interaksi pendidikan yang ditawarkan harus pula mampu menyentuh perkembangan potensi biologis (fisik) peserta didik. Ketika Allah menggunakan terma al-insan, maka interaksi pendidikan harus pula mampu mengembangkan aspek fisik dan psikis peserta didik. Demikian pula ketika Allah menggunakan terma al-nas, maka interaksi pendidikan harus pula mampu menyentuh aspek kehidupan sosial peserta didik. Ketiga terma tersebut harus diformulasikan secara integral dan harmonis dalam setiap interaksi pendidikan yang ditawarkan. Hanya saja mungkin dalam operasionalnya, proporsi antara ketiga terma tersebut sedikit berbeda penekanannya, sesuai dengan materi dan tujuan yang ingin dicapai dari proses tersebut.
Kedua, pendekatan makna substansial.
Ketika Allah menunjuk ketiga terma tersebut dalam memaknai manusia, Allah SWT secara implisit telah melakukan serangkaian interaksi edukatif pada manusia secara proporsional. Allah telah memberikan kelebihan pada manusia dengan berbagai potensinya yang bersifat dinamis, di samping berbagai kelemahan dan keterbatasan manusia dalam menjalankan kehidupannya di muka bumi. Dengan berbagai potensi tersebut, manusia lebih unggul dan sempurna sesuai dengan tujuan penciptaannya, dibanding dengan makhluk Allah yang lain. Di sisi lain, manusia bisa juga menjadi makhluk yang paling hina, tatkala seluruh potensi tersebut tak mampu diaktualkan dan diarahkan secara maksimal, sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Dalam posisi ini, Allah telah memberikan kebebasan pada manusia untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya secara maksimal. Hanya saja, jika mereka ingin tetap dalam keridhaan-Nya, maka mereka dituntut untuk mempergunakan seluruh potensinya tersebut sesuai dengan batas-batas kapasitas kebebasan yang diberikan padanya. Untuk itu, Allah memberikan rambu-rambu dan berbagai konsekuensi atas aktivitas yang dilakukan manusia.
Dengan demikian jelaslah bahwa secara substansial, interaksi pendidikan yang ditawarkan semestinya harus mampu mengacu pada pesan Allah melalui ketiga term tersebut. Dalam hal ini, bentuk interaksi pendidikan harus mampu mengembangkan dan menyentuh seluruh aspek dan potensi yang dimiliki peserta didik secara optimal, serta berupaya untuk meminimalkan sifat-sifat kelemahan manusia yang terbatas tersebut muncul ke permukaan. Oleh sebab itu, karena pendidikan merupakan sarana yang paling efektif dan strategis untuk membantu manusia (peserta didik) mengenal dirinya dan memahami ajaran-ajaran Tuhannya, maka bentuk interaksi yang ditawarkan harus mampu melihat adanya diferensiasi individual antara individu peserta didik. Hal ini disebabkan karena eksistensi interaksi pendidikan pada dasarnya merupakan proses pengarahan dan pembinaan secara demokratis, bukan proses pembentukan dan pengekangan kepribadian peserta didik. Interaksi dari proses pengarahan dan pembinaan seluruh potensi dan aspek peserta didik harus pula dilakukan secara obyektif, universal, tanpa terpengaruh pada status sosial maupun ekonomi peserta didik. Proses tersebut harus pula mampu membantu mengantarkan peserta didik menjadi khalifah di muka bumi dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Ilahiah.

E. TUJUAN PENGEMBANGAN FITRAH MANUSIA
Di atas telah dikemukakan bahwa cara yang paling efektif untuk mengembangkan fitrah manusia adalah melalui pendidikan. Dalam hal ini tentunya pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan Islam. Dengan demikian berarti tujuan pengembangan fitrah manusia itu pada hakikatnya juga merupakan upaya pencapaian tujuan pendidikan Islam itu sendiri.
Menurut Abdul Munir Mulkhan, tujuan pendidikan Islam adalah sebagai proses pengaktualan akal peserta didik yang secara teknis dengan kecerdasan, terampil, dewasa dan berkepribadian muslim yang paripurna. Memiliki kebebasan dengan tetap menjaga nilai kemanusiaan yang ada pada diri manusia untuk dikembangkan secara proporsional Islami. Hasil kongres pendidikan Islam sedunia tahun 1980 di Islamabad, menyebutkan bahwa pendidikan Islam haruslah bertujuan mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh, secara seimbang, melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional, parasaan dan indera. Karena itu, pendidikan harus mencapai pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya, spritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, dan bahasa secara individual maupun kolektif. Mendorong semua aspek ke arah kebaikan dan mencapai kesempurnaan, tujuan akhirnya adalah dengan perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia. Ringkasnya tujuan pendidikan Islam adalah mewujudkan manusia sempurna (insan kamil) serta mampu menjalankan tugas dan fungsinya, baik sebagai 'abd (hamba Allah) maupun sebagai khalifah di muka bumi.
Dalam pandangan Hasan Langgulung, tujuan sebagai hamba Allah yang senantiasa bertaqarrub kepada-Nya dan sebagai khalifah di muka bumi merupakan tujuan tertinggi daripada pendidikan Islam itu sendiri. Tujuan yang pertama sesuai dengan firman Allah SWT:
وَمَا خَلَقْتُ اْلجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ (الذاريات: 56)
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

Sementara tujuan yang kedua adalah sebagai khalifah di muka bumi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:
وَإِذْ قَـالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِى اْلأَرْضِ خَلِيْفَةً قَـالُـوْآ اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الـدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَـالَ إِنِّيْ اَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ (البقرة: 30)
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Berdasarkan penjelasan di atas dipahami dengan jelas bahwa tujuan pengembangan fitrah manusia itu secara optimal adalah agar mereka mampu menjalankan tugas dan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Dengan demikian mereka akan memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup baik di dunia maupun di akhirat nantinya. Sebab jika potensi itu tidak mendapatkan upaya pengembangan niscaya manusia tidak dapat pula melaksanakan tugas dan fungsinya tersebut yang menyebabkan mereka akan menderita dan sengsara dalam menjalani hidup dan kehidupannya karena tidak mendapat keridhaan dari Allah SWT. Selain itu perlu pula dicatat bahwa tidak ada kehidupan yang lebih bahagia selain kehidupan yang mendapat keridhaan dari Tuhan yang telah menciptakan dirinya.
http://charles-mc.blogspot.com/2010/03/hakikat-fitrah-manusia.html
Dari segi bahasa, kata fitrah terambil dari akar kata al-fathr yang berati belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna antara lain “penciptaan’ dan “ kejadian”. Fitrah manusia adalah kejadian sejak semula atau bawaan sejak lahirnya. Adalah tugas pendidikan untuk mengembangkan potensi (fitrah), shingga dengan proses pendidikan manusia mampu membentuk kepribadiannya, mentransfer kebudayaannya  dari suatu komunitas ke komunitas yang lain, mengetahui nilai baik dan buruk dan lain sebagainya. Hanya bagaimna langkah-langkah untuk mengembangkan fitrah tersebut ? Filsafat ilmu pendidikan atau bahkan mengacu kepada petunjuk-petunjuk al-Quran juga bisa mendapatkan solusinya.
Bila makna manusia yang ditunjukan Allah dalam al-Quran dicermati secara seksama, sesungguhnya akan dapat dijadikan pedoman bagi upaya mempormat interaksi pendidikan yang proporsional dan ideal. Hal ini dapat dilihat dari dua pendekatan, yaitu : Pertama, Pendekatan perkata. Ketia Allah menggunakan term al-basyar dalam menunjuk manusia sebagai makhluk biologis , maka interaksi pendidikan yang ditawarkan harus pula menyentuh perkembangan potensi biologis (fisik) peserta didik. Ketika allah menggunakan term al-insan, maka interaksi pendidikan harus pula mampu mengembangkan aspek fisik dan psikis peserta didik. Demikian pula ketika Allah menggunakan term an-nas, maka interaksi pendidikan harus pula mampu menyentuh kehidupan sosial peserta didik. Ketiga term tersebut harus diformulasi secara integral dan haromnis dalam setiap interaksi pendidikan yang ditawarkan. Hanya saja mungkin dalam operasionalnya, proporsi antara ketiga term tersebut sedikit berbeda penekanannya, sesuai dengan materi dan tujuan yang ingin dicapai dari proses pendidikan tersebut.
Kesemua pendekatan tersebut harus berjalan secara berproses dan berkesinambungan, sebagaimana proses kejadian manusia yang telah ditunjukan dan digambarkan Allah dalam al-quran. Dengan bentuk interaksi  yang demikian, maka proses belajar yang ditawarkan akan mampu menarik dan mendapatkan respon positif. Pendekatan yang demikian juga akan mampu menumbuhkan minat peserta didik untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilkinya, tanpa melupakan visi sosio-kultural dan nramtifitas kewahtyuan.
Kedua, pendekatan makna subtansial. Ketika Allah menunjukan ketiga term tersebut dalam memaknai manusia, Allah SWT secara implisit telah melakukan serangkaian interaksi edukatif pada manusia secara proporsional. Allah telah memberikan kelebihan pada manusia dengan berbagai potensi yang bersifat dinamis , disamping berbagai kelemahan dan keterbatasan manusia dalam menjalankan kehidupannya di muka bumi. Dengan berbagai potensi tersebut, manusia lebih unggul dan sempurna –sesuai dengan tujuan penciptaannya–, dibanding dengan makhluk Allah lainnya. Di sisi lain manusia juga bisa menjadi makhluk yang paling hina, tatkala seluruh potensi tersebut tak mampu diaktualkan dan diarahkan secara maksimal, sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam. Dalam posisi ini, Allah telah memberikan kebebasan pada manusia untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliknya secara maksimal dalam batas-batas yang diridoi-Nya.
Interaksi yang ditawarkan allah melalui pendekatan ketiga term manusia yang digunakan al-Quran, merupakan sebuah pendekatan interaksi edukatif yang bersifat persuasif dan integral. Intergralitasnya mencakup aspek jasmani, rohani, intelektual, emosi, akhlak, ketrampilan, dan sosial. Al-Quran dalam mendepinisikan manusia  lebih mengacu pada aspek psikis, hal ini disebabkan karena esensi manusia terletak pada aspek psikisnya, disamping aspek fisiknya. Keduanya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya, sebab wujud manusia terletak pada kedua aspek tersebut.
Kesatuan wujud manusia antara jasmaniah dan rohaniah yang didukung oleh potensi-potensi yang ada di dalamnya, membuktikan sempurnanya Allah menciptakan makhluk-Nya terutama manusia. Diciptakannya manusia dengan sebaik-baik bentuk dengan dibekali berbagai potensi, menempatkan manusia pada posisi yang sangat strategis dan mulia.Konsekuensi dari hal ini, terlihat dari kedudukannya dimuka bumi yaitu sebagai abd.. Allah (hamba allah) dan khalifah fil-ard.
Konsep fitrah manusia dalam perspktif pendidikan Islam , tidak sama dengan teori Tabulasara John Locke. Sebab dalam Islam, manusia sejak lahir telah memiliki berbagai bentuk potensi yang bisa dikembangkan. Tanpa potensi tersebut, manusia akan sulit untuk mampu melaksanakan tugas dan fungsinya  sebagai wakil Allah. Konsep fitrah manusia menurut Islam juga berbeda jauh dengan teori nativisme  A.Scophenhour, sebab dalam Islam mengakui adanya pengaruh yang besar di luar diri manusia, baik insani maupun non isnsani, dalam mengembangkan dan memodifikasi potensi yang dimilkinya.
Konsep fitrah, menurut islam juga berbeda dengan teori konvergensi yang dilakukan oleh William stren. Sebab dalam pandangan Islam, perkembangan potensi manusia itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh lingkungan dan tidak bisa ditentukan melalui pendekatan kuantitas, sejauh mana peranan keduanya 9potensi dan lingkunan) dalam membentuk kepribadian manusia. Adakalanya potensi yang lebih dominan dalam membentuk kepribadian manusia, tapi ada juga kalanya lingkungan yang lebih dominan, atau kedua-duanya sama dominannya.  Bahkan dalam Islam, di luar kedua pengaruh tersebut, ada pengaruh lainnya yang juga ikut memberikan warna tersendiri bagi pembentukan kepribadian manusia, yaitu faktor hidayah yang diberikan allah kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki.
Stidaknya ada empat bentuk hidayah yang diberikan allah kepada manusia, yaitu : pertama, hidayah potensi naluriah (hidayat al-wujdan) yang dibawanya sejak lahir, seperti makan,menyusu, dan sebagainya. Kedua, hidayah potensi indrawi (hidayat al-hawasy) berupa pancaindera. Ketiga, hidayah potensi akal (hidayat al-‘aql). Keempat, hidayah potensi agama (hidayat ad-din).
Dari penjelasan di atas , terlihat bahwa cakupan dan pengertian fitrah manusia dalam perspektif pendidikan islam memilki makna yang sangat luas dibanding dengan batasan  yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan kontemporer. Dengan luasnya cakupan yang dikandung dalam makna fitrah manusia di atas, sekaligus meng-counter pandangan beberapa teori pendidikan kontemporer di atas dalam melihat potensi manusia yang terkesan bersifat parsial dan lepas dari kerangka bingai religiusitas manusia yang skral dan asasi.
Implikasi dari rujukan di atas memberikan nuansa bahwa wacana pendidikan islam merupakan sarana bagi pengembangan potensi  yang dimilki manusia seoptimal mungkin. Dengan demikian, manusia sangat memerlukan pendidikan, baik formal, informal, maupun non formal.
Demikian juga sebaliknya, proses pendidikan tidak akan banyak berperan, jika lahan kajiannya –manusia—merupakan makhluk yang bersifat pasif dan statis, sebagaimana potensi yang dimiliki makhluk Allah selain manusia. Artinya, manusialah –merupakan makhluk Allah—yang dapat dan memerlukan pendidikan untuk mempersiapkan dirinya mampu mengembangkan dan memikul amanat yang diberikan Allah kepadanya.
Untuk tujuan tersebut, maka pendidikan islam ukan hanya sekedar proses pentrensferan ilmu pengetahuan atau kebudayaan dari satu generasi  kepada generasi berikutnya, akan tetapi jauh dari itu, pendidikan islam merupakan suatu bentuk proses pengaktualan sejumlah potensi yang dimiliki peserta didiknya, yang meliputi pengembangan jasmani , rasionalitas, intelektualitas, emosi, dan akhlak, yang berfungsi menyiapkan individu muslim yang memilki kepribadian paripurna bagi kemaslahatan seluruh umat manusia. Dengan demikian, berarti pendidikan islam merupakan proses peneneman nilai Ilahiyah  yang diformulasikan secara sistematis dan adaptik, yang disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan potensi peserta didik. Artinya, pola pendidikan yang ditawarkan harus disesuaikan dengan kebutuhan fisik  dan psikis peserta didik sebagai subyek pendidikan. Jika tidak, proses pendidikan yang ditawarkan akan mengalami kebekuan dan hambatan. Untuk itu, pendidikan yang dilaksanakan harus mampu menyentuh kesemua asfek manusia secara utuh, yaitu asfek jasamaniah dan rohaniah.
Fitrah Manusia Beragama Tuhid. Manusia adalah makhluk paling mulia di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah lainya, bahkan hal ini dinyatakan sendiri oleh Allah Swt dalam Qs Al Isra-70 “ Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkat mereka didaratan dan dilautan,kami beri mereka riski dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan “.

Tidak ada yang lebih mulia yang diciptakan Allah selain manusia, kemuliaan maupun kelebihan manusia itu terletak pada akal, tentu bagi yang mau mempergunakan akalnya menurut semestinya, memiliki hati nurani ditambah dengan kelebihan nafsu yang harus bisa dikendalikanya. Jelasnya manusia itu harus mampu mempergunakan akalnya sebagai penimbang,hati nurani sebagai pengarah dan nafsu sebagai pendorong untuk berbuat kebaikan dan menaburkan amal shaleh.

Namun, diayat lain Allah menyatakan pula bahwa manusia itu akan selalu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh yang selalu mengisi waktu dan hari-harinya dengan banyak melakukan amar makruf nahi mungkar. “Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan sehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran “. ( Qs Al Ashr 1-3 ).
       

       


Jelas sudah, sepotong firman Allah di atas memberikan petunjuk nyata kepada setiap pribadi muslim kalau ingin meraih kesuksesan dan keselamatan hidup didunia dan diakhirat pertama sekali harus beriman (Islam), dan tidak pernah jenuh dan bosan untuk melakukan amal shaleh, tawaduk, ikhlas dan sabar, serta selalu menumbuhkan konsekuen dan rasa percaya diri yang tinggi.

Beriman dalam artian mengaku bahwa tiada tuhan yang di sembah selain Allah dan mengaku bahwa Nabi Muhammad  adalah Rasul Allah. Hal ini sangat begitu penting sekali untuk diikrarkan dalam diri ( Syahadad ), untuk seterusnya di realisasikan melalui amal ibadah.

Sedangkan amal ibadah itu sendiri merupakan implementasi dari pada akidah yang dapat dijadikan ukuran kualitas iman seseorang. Begitu juga halnya iman harus terkait dengan keyakinan, ucapan dan perbuatan atau tingkah laku sehari-hari. Malah, yang membedakan antara  satu individu dengan individu lainya terletak pada masalah ibadah, sampai sejauh mana dalam menjalankan ketaatan kepada perintah Allah dan Rasulnya, plus keikhlasan dan kerelaan dalam menerima cobaan dan ujian. Bahkan malaikat dan iblispun bedanya terletak pada masalah ibadah ini, adapun keyakinan mereka pada dasarnya adalah sama.

Sedangkan syahadad mengandung dua persaksian  atau pengakuan syahadad Illahiah dan syahadad Kerasulan. Syahadad Illahiah mengandung pegertian bahwa Allah itu nyata adanya maha pencipta dan maha esa, maha kuasa, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan serta tidak ada sekutu atau yang sanggup menandinginya.

Untuk lebih jelasnya simak kembali Qs Al Ikhlas ayat 1-4 “ Katakanlah dialah Allah yang maha esa. Allah adalah tuhan yang bergantung padanya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan dia “. Begitu juga halnya dengan syahadad kerasulan Muhammad Saw sebagai Rasul atau utusan Allah untuk umat manusia secara umum dan untuk semua golongan,ras maupun suku di dunia ini sebagai pengusung pesan Allah yang abadi.

Berfirman Allah dalam Qs Al Fath-29 “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir,tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil,yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadai besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar “.

Penutup surat Al Fath di atas  menerangkan pada setiap diri bagaimana Islam di bawah pimpinan Rasulullah Saw yang keras dan tegas terhadap orang-orang kafir dalam artian luas, tidak menyakiti kalau tidak disakiti, tidak akan pernah menganggu kalau tidak diganggu. Namun dibalik karakter Islam tersebut juga tersimpan dengan baik sikap toleransi,saling menghargai harkat dan martabat manusia dan akan selalu kasih-mengasihi antar sesama makhluk Allah lainya.

Pada dasarnya syahadad seperti yang di sebutkan di atas merupakan dasar terpenting untuk tegaknya totalitas Islam. Islam tidak akan tegak kalau rukun-rukunya tidak ditegakan,dan rukun-rukun yang empat sebagai pengiringnya tidak akan tegak kalau kalimat syahadad tidak tegak secara sempurna bahkan tidak ada Islam sebelum kalimat syahadad diucapkan.

Kedua kalimat syahadad diatas satu sama lain adalah saling berkaitan erat dan tidak bisa dipisahkan. Syahadad Muhammad Rasulullah merupakan kelengkapan dari syahadad Laillahailallah. Pengakuan tidak ada tuhan selain Allah dalam mempraktekan dan merefleksikanya memerlukan cara-cara tertentu dan mengandung makna-makna tertentu pula. Jelasnya, sudah pasti kalimat Laillahailallah tidak akan dapat di tegakan kecuali terlebih dahulu harus mengenal dan mengetahui perihal Rasulnya.

Karena Rasulullahlah orangnya yang telah menunjukan jalan untuk mengamalkan dan merefleksikan pengertian Syahadad itu sendiri. Tanpa kehadiran Beliau Saw ketengah-tengah umat sebagai utusan Allah,manusia jelas akan menemui jalan buntu dan kesulitan untuk mengesakan dan mentauhidkan Allah Aza Wajalla,bahkan akan terbenam jauh dalam kesesatan karena tidak berpijak diatas dasar-dasar yang benar (Islam).

Dengan mempertebal keimanan dan selalu memurnikan ketaatan hanya pada Allah semata, ikhlas serta penuh keyakinan dan kesabaran, dengan sendirinya akan membawa manusia itu kepada ujud jati diri yang tinggi selaku makhluk yang dasarnya sudah mulia juga. Sebab hanya dengan ketaatan yang murni dan penyerahan diri seutuhnya pada kekuasaan-Nya yang mengambarkan karakter muslim sejati. Hal seperti inilah yang dinamakan bahwa fitrah manusia itu beragama tauhid, yaitu sebuah ajaran atau anjuran untuk menghambakan diri semata-mata hanya kepada Allah dengan ketentuan-ketentuan yang sudah di atur melalui Al Quran dan Hadis Rasulullah Saw. Ajaran tauhid ini juga merupakan ajaran yang moderen,dinamis,luwes yang bersifat optimistik.

Didalam ajaran agama tauhid manusia dilahirkan dalam keadaan bersih dan suci (fitrah) dan sangat diharapkan didalam menjalani berbagai macam perjuangan hidup dimuka bumi ini, pasti akan dihadapkan kembali kehadirat Allah Swt yang harus dalam keadaan suci pula.

Berfirman Allah dalam Qs Ar Rumm-30 “ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui “.

Yang dimaksud dengan fitrah Allah adalah segala sesuatu yang diciptakan Allah. Manusia diciptakan Allah memiliki naluri beragama yaitu agama tauhid (Islam). Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid atau beragama Islam namun, tidak menerapkan sifat-sifat tauhid malah mengingkarinya maka menurut pandangan Allah nerakalah yang cocok untuknya. Hal ini biasanya sangat dipengaruhi oleh lingkunan terdekat kita sebagai contoh tidak mungkin seorang anak akan taat beribadah kalau seandainya kedua orang tuanya jauh dari ajaran agama tauhid ini ( tidak akan jauh buah jatuh dari batangnya ) begitulah kebanyakan orang awam memberi istilah.

Jadi,setiap diri yang mengharapkan ketentraman,kenyamanan hati dan pikiran serta mengharapkan pertemuan yang mulus dan baik dengan Allah. Setiap pribadi harus membuang jauh-jauh keragu-raguan didalam menjalankan agama yang lurus ini (Islam),mengantinya dengan ketaatan yang semurni-murninya hanya pada Allah,menjadikan kitab suci Al Quran sebagai pedoman dalam menemukan arti hidup yang sebenarnya,serta selalu bercermin pada kepribadian Rasulullah Saw sebagai pengusung seperangkat risalah kebenaran. Karena dalam pandangan Allah manusia menurut fitrah adalah hanya berkeyakinan atau beragama tauhid,selain itu termasuk golongan orang-orang yang ingkar pada ketentuan-Nya.
4  MACAM-MACAM FITRAH
1.      Potensi Fisik (Psychomotoric)
Merupakan potensi fisik manusia yang dapat diberdayakan sesuai fungsinya untuk berbagai kepentingan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup.
2.      Potensi Mental Intelektual (IQ)
Merupakan potensi yang ada pada otak manusia fungsinya : untuk merencanakan sesuatu untuk menghitung, dan menganalisis, serta memahami sesuatu tersebut.
3.      Potensi Mental Spritual Question (SP)
Merupakan potensi kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri manusia yang berhubungan dengan jiwa dan keimanan dan akhlak manusia.
4.      Potensi Sosial Emosional
Yaitu merupakan potensi yang ada pada otak manusia fungsinya mengendalikan amarah, serta bertanggung jawab terhadap sesuatu.
2.5  HUBUNGAN FITRAH DENGAN PENDIDIKAN
Sebelum kita melihat hubungan fitrah dengan pendidikan maka dilihat dulu dari segi pengertian.
a.       Fitrah adalah : kemampuan dasar yang ada pada diri seseorang yang harus dikembangkan secara optimal.
b.      Pendidikan adalah : usaha sadar orang dewasa untuk mengembangkan kemampuan hidup secara optimal, baik secara pribadi maupun sebagai anggota masyarakat serta memiliki nilai-nilai religius dan sosial sebagai pengarah hidupnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan fitrah dengan pendidikan adalah potensi yang ada atau kemampuan jasmani dan rohaniah yang dapat dikembangkan tersebut. Pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan sampai dimana tiitk optimal kemampuan-kemampuan tersebut untuk mencapainya.
Dalam sebuah hadits dapat juga dijelaskan yang diriwayatkan oleh Muslim, yaitu :



Artinya : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang menjadikan dirinya beragama Yahudi atau Nasrani dan Majusi.

Keutuhan terhadap pendidikan bukan sekedar untuk mengembangkan aspek-aspek individualisasi dan sosialisasi, melainkan juga mengarahkan perkembangan kemampuan dasar tersebut kepada pola hidup yang ukhawi. Oleh karena itu diperlukan atau keharusan pendidikan.
Dengan demikian proses pendidikan Islam demi mencapai tujuan yang total, menyeluruh dan meliputi segenap aspek kemampuan manusia diperlukan landasan falsafah pendidikan yang menjangkau pengembangan potensi kemanusiannya, falsafah pendidikan yang demikian itu bercorak menyeluruh dimana iman melandasarinya. Sehingga proses pendidikan yang berwatak keagamaan mampu mengarahkan kepada pembentukan manusia yang mukmin, atau dengan filsafat pendidikan Islam bisa memikirkan perkembangannya secara mendasar, sistematik, dan rasional yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits agar berkembang secara optimal dan bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Karena pendidikan yang mengarahkan ke arah perkembangan yang optimal maka pendidikan dalam mengembangkannya harus memperhatikan aspek-aspek kepentingan yang antara lain :
1)      Aspek Pedagogis
Dalam hal ini manusia dipandang sebagai makhluk yang disebut ‘Homo Educondum’ yaitu makhluk yang harus didik. Inilah yang membedakannya dengan makhluk yang lain. Jadi disini pendidikan berfungsi memanusiakan manusia tanpa pendidikan sama sekali, manusia tidak dapat menjadi manusia yang sebenarnya.
2)      Aspek Psikologis
Aspek ini memandang manusia sebagai makhluk yang disebut ‘Psychophyisk Netral’ yaitu makhluk yang memiliki kemandirian (selftandingness) jasmaniahnya dan rohaniah. Didalam kemandirian itu manusia mempunyai potensi dasar yang merupakan benih yang dapat tumbuh dan berkembang.
3)      Aspek Sosiologis Dan Kultural
Aspek ini memandang bahwa manusia adalah makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.
4)      Aspek Filosofis
Aspek ini manusia adalah makhluk yang disebut ‘Homo Sapiens’ yaitu makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan.

4.       Pengembangan Fitrah        
Fitrah manusia sebagai anugerah Allah yang tidak ternilai harganya itu harus dikembangkan agar manusia dapat menjadi manusia yang sempurna (insan kamil). M Natsir menyebutkan bahwa pengembanga fitrah adalah salah satu tugas risalah yang diemban untuk nabi Muhammad SAW.
Setiap usaha pengembangan fitrah itu harus dilaksanakan secara sadar, berencana dan sistematis.
Berkembang atau tidaknya fitrah itu tergantung kepada dua faktor:
1.         Usaha manusia sendiri.
2.         Hidayah (petunjuk) Allah SWT
Hidayah Allah dalam rangka pengembangan fitrah ada  beberapa macam:
1.         Hidayah Aql   (akal)
2.         Hidayah Qalb (hati)
3.         Hidayah Din  (agama)
 
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar