Flower & Frame



Pernah aku mengalami kehidupan layaknya kayu usang, tanpa cahaya, terbaring lapuk. Saat itu sangatlah buruk, aku tidak mengatakan semua kehidupanku buruk, namun kala itu benar-benar buruk, dan yang membuatku merasa sangat buruk adalah kenyataan dimana aku sama sekali tidak berfikir bahwa aku menjalani hidup dengan amat buruk.

Terlalu banyak berfikir kadang menjadi senjata yang menakutkan, tiap kata yang teruntai dari seseorang entah mengapa selalu beriringan dengan anggapan negatif, tiap tindakan yang mengarah kepadaku selalu saja menggangguku. Aku memang kurang pandai membaca situasi hingga logika yang keliru menjadi tameng utamaku. Sepenuhnya aku hampir tidak percaya akan anggapan bahwa kebaikan akan datang. Aku sepenuhnya adalah sosok yang dingin dan penuh dengan kegelapan.

Sepenuhnya adalah kegelapan. Apalah arti hidupku ini jika secercah cahaya sedikitpun tidak datang menghampiriku. Selalu terbesit dipikiranku untuk segera mengakhiri ini.

Dulu, aku memang tidak menemukan cahaya karena telah tertutup gelap, aku sangat beruntung karena jika tidak demikian aku mungkin tidak merasa sebahagia sekarang ini ketika menemukan harapan kala cahaya kecil kian mendekat.

“Bayangan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh ku, _setangkai bunga yang teramat indah.”

Yah. Aku yang sekarang merasa bingung. Dia yang menemukanku untuk mengubahku atau aku yang menemukannya untuk terus bersamanya. Selama ini yang aku tahu takdir hanya memutarbalikkan keadaan seenaknya saja. Hal yang seindah ini bahkan takdir pun seolah tidak cukup untuk membuat nya ada. Aku akhirnya dihadapkan dengan dua jalan yang berbeda, dan memaksaku berfikir apakah nasibku akan berubah dengan memilih mengikuti bayangan bunga ini atau justru menghiraukannya begitu saja.

Sungguh bodohnya aku. Mengapa disaat seperti ini logika menuntunku mulus. Dengan sepenuh hati tentu akan terus mengikuti bayangan bunga itu. Dahulu definisiku tentang menjadi hidup tidak tidak perlu ditanyakan lagi, mana mungkin sosok yang pertama kali muncul dan menuntunku menjadi lebih menghargai hidup aku hiraukan begitu saja. Namun dia adalah bunga, dan karena ia adalah bunga, saat itu juga aku berhenti untuk berharap lebih. Mengatakan “aku menyukai keindahanmu, keelokan dan kecantikanmu” tentu akan meredupkan pernyataan tulus “aku menyukaimu apa adanya”.

Bingkai dan Bunga, mungkin itulah perumpamaan yang tepat untukku dan untuknya. Aku berada dalam situasi dimana untuk mendapatkan kebahagiaannya saja tidak pantas. Bagiku membuatnya terus bahagia sudah cukup. Tugasku, lebih tepatnya kehadiranku hanya untuk menampilkan keindahannya. Aku tak akan membiarkan sedikitpun dari keindahan kelopaknya terbang sia-sia. Terus membuatnya bermekaran adalah impianku. Membiarkannya layu merupakan penyesalan terburukku.

Aku sama sekali tidak peduli apa kata orang. Kepedulianku terhadap diriku sendiri sudah lama memudar. Sekarang untuk menebus semuanya, akan kuberikan kepedulian ku padanya tanpa sedikitpun mengharapkan balasan. Bagiku keputusan terbaik yang aku lakukan adalah “saat ini”. Mendukung dari balik layar sungguh tidaklah seburuk yang aku duga. Menjadi bingkai untuknya, membuat keberadaanku lebih berarti mengingat sebelumnya aku yang diterima olehnya pun tidak layak. Dari awal memang aku tidak menuntut apapun dan sampai kapanpun akan terus seperti itu.

“Jangan pernah memikirkan bingkai ini, teruslah bermekaran dengan kelopak indahmu.”