The Tale of Finger Pledge

Terkadang hidup yang kita jalani terlalu sempit untuk kita ketahui, bahkan dari hal kecil seperti jari-jari sekalipun takkan pernah kita sadari akan memiliki cerita tersendiri dibaliknya. Ini bukan perjalanan hidup dari seorang manusia, melainkan renungan dari bagian yang selalu ingin bergerak, mencoba memberitahu kita akan kehadirannya lebih dari sekedar budak otak semata.

Sebutlah bahwa “jari” dari seorang manusia (Lelaki) hidup menyerupai “majikannya”. Memiliki jiwa, perasaan, nafsu, dan berbicara layaknya seorang manusia. Suatu hari ketika “majikan” dari jari itu berpapasan dengan “majikan” lain(Wanita), sang “jari” merasakan ada sesuatu yang berbeda dari “jari” orang itu. Lalu saat terjadi dialog antara kedua “majikan” tadi, si “jari” mulai berfikir bahwa terdapat hal yang lebih dibanding ketika majikan mereka berbicara, yaitu pertemuan antara kedua jari orang tersebut.

Jari itu (selanjutnya kita sebut dengan Scratch) tiba tiba merasa aneh ketika berbicara dengan jari orang kedua tadi (selanjutnya kita sebut dengan Beauty). Berbeda dengan jari-jari yang pernah Scratch temui sebelumnya, Beauty terlihat sangat akrab dan berbicara seolah tanpa memikirkan sifat dasar Scratch yang memang kurang pandai bersosialisasi terlebih bagi jari yang pertama kali dikenalnya. Walaupun dari keduanya terlihat si Scratch dipojokkan oleh si Beauty sehingga Scratch berfikir bahwa Beauty hanya bermaksud memarahinya, namun justru sejak itulah perasaan aneh si scratch mulai muncul, sedikit demi sedikit dan kemudian bertambah menjadi semakin besar.

Hari yang telah lalu tatkala menyisakan sedikit harapan yang walaupun tak dapat terulang kembali (Waktu), namun berharap suatu saat dapat terjadi lagi (Dejavu). Takdir tidaklah seburuk yang ia duga. Masa ketika sunyi meliputi kehidupan sebelumnya mungkin semacam alasan mengapa kesendirian yang dulu ia jalani membuat keadaan kini seolah mendukung keinginannya untuk kembali merasakan kehangatannya. Walhasil kedua majikan dari jari-jari tersebut kembali bertemu dan menjadi sahabat seiring mereka terus bersama. Bahkan kaos tangan merah bergaris hitam pun menjadi saksi diantara berbagai kesamaan mereka berdua. Walaupun sepele, namun sejak itu Scratch mulai yakin bahwa ia akan merasa cocok dengan berbagai kesamaan yang ia lihat dan berharap dari kesamaan tadi agar juga dapat sejalan. Walaupun hanya sekedar angan yang ia tahu takkan bisa tersampaikan, ia menyadari satu hal bahwa dengan menjadi temannya itu akan cukup membuat perasaannya terpenuhi. Namun Scratch selalu berharap suatu saat ia mampu memberikan yang terbaik bagi jari yang telah mengajarkannya arti dari "perubahan", dengan menjanjikannya sesuatu yang disebut "kepercayaan", sehingga apapun yang Beauty lakukan, hanya akan ada keyakinan yang Scratch rasakan.

Tanpa Beauty ketahui, bahkan takkan ada yang menyangka jika Scratch memendam perasaannya sejak itu. Mencoba untuk tidak bersikap peduli agar Beauty tak menyadari bahwa Scratch tidak pantas untuk mendampinginya dengan kekurangan yang mungkin kelak hanya akan membuat Beauty terbawa arus kebodohan Scratch, mengingat ia merupakan sosok pujaan yang pada dasarnya hampir tidak memiliki celah karena telah tertutupi oleh kesempurnaan yang dimiliknya. Sehingga Scratch "sangat" takut keberadaannya disisinya hanya akan membuat Beauty merasa malu, toh ia juga berfikir bahwa mustahil jika Beauty memiliki perasaan yang sama dengannya, dimana tidak sedikitpun terlintas di benak Scratch akan hal ego merendahkan wanita semacam itu. Karena ia sudah merasa cukup tenang ketika perasaan tanpa pengakuan ini tersimpan seiring senyuman yang terlihat di wajahnya.

Akhirnya dalam kondisi yang diinginkan meski hanya satu jiwa yang merasakan, Scratch dan Beauty pun menjadi semakin akrab. Mereka bahkan sering berselisih paham mengenai hal-hal sepele, walaupun terlalu menyakitkan dalam menghianati karakter dan menyakiti perasaan Beauty, hal itu tidak menjadi masalah bagi Scratch mengingat dampak yang ia lakukan dengan perasaannya yang kini telah terlampau jauh, harus ia tambah ketika Beauty mengetahuinya, maka jelas akan menjadi lebih menyakitkan dari sebelumnya. Namun keadaan terkadang berkata lain, seiring ia terus bersamanya, perasaan aneh tersebut semakin sulit untuk Scratch hindari, hasilnya ia menyadari bahwa semakin ia bersamanya, semakin banyak pula perubahan baik yang ia dapatkan. Sejak Scratch memikirkannya, terlalu banyak hal menyenangkan yang ia rasakan sehingga semua perkara seakan terlalu mudah untuk ia jalani.

Pada saat itu Scratch bukan lagi sebagai jari dari orang biasa, namun menjadi salah satu diantara mereka yang terbaik. However, bukan hanya diri Scratch saja yang berubah namun keadaan yang sebelumnya pun juga ikut berbalik, dimana ketika Scratch yang dulu akrab dengan si Beauty layaknya sahabat, kini seolah terpisahkan oleh keadaan sekitarnya yang selalu mengagung-agungkannya. Bahkan Scratch seraya menahan sakit ketika Beauty juga ikut mengagungkannya bersama jari yang lain. Akan tetapi dalam hati Scratch selalu mengarahkannya pada keyakinan lain bahwa ”tidak mengapa orang yang aku kagumi selama ini seolah mengagumi saya dengan cara yang berbeda, asalkan ia senang tentu aku pun juga ikut senang”.

Keadaan itu memaksa Scratch untuk sedikit demi sedikit “bergerak”, ia pun kembali memberanikan diri berhubungan dengan Beauty walaupun secara tersirat dibatasi masalah prinsip akan kekurangan tadi. Momen berharga itu bermula ketika Scratch melihat catatan yang dibuat oleh majikan Beauty, ia merasa malu ketika membandingkannya dengan tulisannya sendiri yang tidak lebih baik dari sebuah Goresan/Scratch. Ia berkata “tulisan kamu terlalu sempurna untuk saya lihat”. Namun hal aneh yang selalu membuat Scratch sendiri merasa bingung dengan perasaannya, tiba-tiba kembali muncul saat Beauty menjawab, “Yang kamu lihat itu hanyalah tulisan kecil diantara banyaknya tulisan-tulisan “sukar” untuk kita ragukan kecantikannya”. Merasa sulit untuk membuatnya sepadan, Scratch pun hanya dapat berkata, “bukan keindahan dari tulisan itu yang saya kagumi selama ini, akan tetapi kesan setelah melihat tulisan itu yang mungkin takkan pernah untuk saya lupakan, dan tolong jangan tanyakan kesannya seperti apa”. Scratch menekankan pernyataan terakhirnya sebap ia takut tak ada jawaban lain selain mengungkapkan isi hatinya. Namun justru hal itu semakin membuat Beauty merasa sangat ingin tahu seperti apa kesan yang dimaksud, terlebih Scratch juga tidak ingin menyakiti hati Beauty dengan cueknya lagi, maka ia pun akhirnya menjawab “ketika tulisan itu terbayang dipikiranku, satu-satunya pikiran yang ada dibenakku adalah jari yang paling aku suka yaitu KAMU. Dan jika kamu meragukan anggapanku bahwa dirimu adalah perwujudan dari kesempurnaan, maka percayalah aku menyukaimu dengan segala kekuranganmu, yang kuanggap itu semua adalah kelebihanmu”.

Walaupun Beauty tidak percaya, karena mustahil jika selama ini belum ada yang menyangkut di hati Scratch. Kembali ia bertanya “Bagaimana jika ada jari yang memiliki tulisan seperti saya, entah itu yang pernah kamu lihat atau mungkin yang belum kamu lihat dan kelak akan kamu lihat?”. Mendengar hal tersebut, sejenak ia merenungkan masa lalunya yang jauh berbeda dari siapapun. Disisi lain ia tidak menyangka akan hadir hal yang begitu mengerti dirinya, sehingga pada akhirnya Scratch menjawab “selama ini belum ada tulisan yang begitu bermakna sepertimu, jikalaupun ada maka saya tidak akan berfikir bahwa itu ada. Kamu selalu menjadi yang pertama dan tak berharap akan ada yang lain, jadi tolong jangan memaksa keadaan seolah saya harus melupakan keberadaanmu walaupun sampai hal tersulit, melihatmu "berhiaskan cincin" dari jari lain. Karena adalah suatu kebanggaan ketika perasaan ini tetap saya jaga dan pertahankan sebagai tanda bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa benar-benar telah memperjuangkan satu hal yang disebut “Ketulusan”.
 

Discourse Analysis on Students' Joke


EXAMINING TEXTUAL JOKES AMONG STUDENTS TENSION TOWARD ACADEMIC ASSIGNMENTS
Ikrar
ikrarki@yahoo.com
English Educational Department Graduate Program of State University of Makassar, Indonesia

ABSTRACT
Jokes has an essential resource that can be used to transmit concepts, motivate students, encourage creativity especially when dealing with a lot of academic assignments. Therefore it is important to examine the types of jokes used by students in WhatsApp chat. The other focus of this research is to explore the supplementaries of joke used by humorous students in order to assuage students‟ tension toward academic assignments. This paper is based on a research conducted in 2017 at English Graduate Program of State University of Makassar, South Sulawesi, Indonesia. This research only concentrated on Class C of classroom discussion about their assignments. Through WhatsApp, students expressed their utterances into textual messages, emoticons, phonetic spelling to create verbal effect and eventually creating laughter in process. In this research all the students messages is taken from WhatsApp chat and examined to check the underlying types and also the supporting devices of their jokes. The results show that English students use seven types of jokes (Görlach, 2004) with six supplementaries of jokes (Ritchie, 2004). Findings in this research are relevant in the development of English language learning particularly in attempt to create motivation among their tension.

Keywords: types of jokes; jokes supplementary; whatsapp chat; academic assignments; students‟ tension; English courses

Full text: here