Pengembangan Afektif (Cooperation) pada Teori Piaget

Menurut Piaget, anak pada usia 7 tahun akan memasuki tahap operasional konkret, dimana anak sudah mampu berpikir rasional, seperti penalaran untuk menyelesaikan suatu masalah yang konkret (aktual). Namun, bagaimanapun juga dalam kemampuan berpikir mereka masih terbatas pada situasi nyata. Pada bagian dibawah ini lebih pada pengembangan afektif dalam lingkup interaksi anak atau kerjasama.

Perkembangan kognitif dan Perkembangan afektif tidak dapat dipisahkan. Jadi, ketika perkembangan kognitif dan perkembangan afektif dikonsep secara independen, tidak dapat dipungkiri bahwa diantara keduanya terdapat kesejajaran yang jelas. Pada tahap operasional konkrit, penalaran dan pikiran memperoleh stabilitas yang lebih besar dari pikiran praoperasional. Kemampuan penalaran menjadi semakin logis dan kurang tunduk pada pengaruh oleh kontradiksi persepsi. Reversibilitas pikiran (kemampuan mengubah arah berfikir kembali ke titik awal) dan bantuan de-centering (anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya) membawa konsistensi dan konservasi (kemampuan pemikiran logis) pada penalaran operasional konkrit anak.

Faktor-faktor ini mempengaruhi tidak hanya penalaran kognitif tetapi juga penalaran afektif. Selama tahap operasional konkrit, afeksi memperoleh ukuran stabilitas dan konsistensi yang tidak hadir sebelumnya.

Selama tahap operasi konkrit, reversibilitas muncul dalam penalaran afektif anak. Asal-usul reversibilitas dalam lingkup afektif tampak dalam tahap praoperasional. Pada saat itu, perasaan tidak sepenuhnya "di konservasi", dan afeksi bersifat prenormative; tetapi karena perasaan sehari-hari bisa diwakili dan di ingat, perasaan tidak lagi berhubungan.

Pada usia sekitar 7 atau 8 tahun, muncul konservasi perasaan dan nilai-nilai. Anak-anak menjadi mampu menyelaraskan pikiran afektif mereka dari satu peristiwa ke yang lain. Apa yang dilestarikan atau dipertahankan, dari waktu ke waktu, adalah beberapa aspek dari perasaan masa lalu. Pemikiran afektif sekarang dapat dibalik (reversible). Masa lalu bisa dijadikan sebagai bagian dari penalaran saat ini melalui kemampuan untuk membalikkan dan melestarikan. Contoh konkritnya, menambah dan mengurang merupakan operasi yang sama dilakukan dengan arah yang berlawan, 2+1=3, 3-1=2.

Piaget menyarankan bahwa interaksi sosial selama tahap praoperasional mendorong pengembangan konservasi perasaan.

....... kehidupan sosial memerlukan pemikiran untuk memperoleh hasil tertentu. Untuk dapat terjadi, aktivitas mental tidak lagi dapat diwakili dalam hal simbol khusus seperti fantasi yang lucu (simbol permainan) akan tetapi harus dinyatakan dalam penanda universal seperti tanda linguistik (bahasa). Keseragaman dan konsistensi ekspresi yang diberlakukan oleh kehidupan sosial memegang peranan besar, oleh karena itu, dalam pengembangan struktur intelektual dengan konservasi dan invarian; hal itu akan menyebabkan transformasi analog (perubahan yang sama) dalam domain perasaan. Akibatnya, performansi (hasil) jelas kurang dari perasaan spontan yang akan muncul dengan sosial dan terutama, perasaan moral .....

Menyukai orang lain adalah perasaan yang bervariasi selama itu spontan dan terkait dengan situasi tertentu. Hal ini menjadi langgeng dan dapat diandalkan ketika perasaan semi-kewajiban ditambahkan.

Dalam bab terakhir afeksi praoperasional adalah prenormative. Meskipun tidak sepenuhnya memenuhi salah satu dari tiga kriteria untuk menjadi normatif: (1) dapat di generalisasi, (2) yang bertahan, dan (3) yang terkait dengan otonomi. Selama tahap operasional konkrit, kriteria ini terpenuhi sebagai kemampuan penalaran afektif anak-anak menjadi "operasional." Dengan cara yang sama bahwa reversibilitas mengarah ke logika penalaran, yang mengarah ke logika afektif. Operasi yang dapat dibalik muncul dalam domain afektif.

Untuk lebih memahami keyakinan Piaget tentang perkembangan afektif selama tahap operasional konkret, penting untuk memahami konsepnya tentang kehendak dan otonomi.

Kehendak (Keinginan)

Piaget menegaskan bahwa "analog afektif operasi intelektual ditemukan dalam tindakan “kehendak". Dia melihat kehendak sebagai skala permanen dari nilai yang dibangun oleh individu dimana ia merasa berkewajiban untuk mematuhinya. Kehendak mengasumsikan peran sebagai pembuat aturan (self-regulation) dari afektif dan dengan mekanisme nilai yang dikonservasi. Dalam kegiatan kognitif, konflik antara pengalaman persepsi dan penalaran logis diatur melalui konservasi, kemampuan untuk mempertahankan kepatuhan dalam menghadapi perubahan secara logis yang tidak relevan. Demikian pula, konflik antara impuls afektif diatur oleh kehendak selama kehendak itu berada di tempatnya, nilai-nilai dapat dinyatakan pada dorongan yang bertentangan, meskipun dorongan mungkin lebih kuat pada satu titik dari nilai dan kehendak.

Menurut Piaget, terdapat sejumlah faktor pendorong terhadap pengembangan secara bertahap dari kehendak. Salah satu faktor, yang telah disebutkan, adalah tuntutan dari pengalaman sosial, yang mendorong konsistensi dalam jiwa afektif. Perilaku yang memiliki kesinambungan diperkuat oleh orang lain lebih dari perilaku yang tidak konsisten. Selain itu, pengalaman afektif dan perasaan sekarang dilestarikan. Pada saat saat tertentu, bekas-bekas afektif, diwakili dalam memori dan saaat ini, merupakan bagian dari penalaran afektif. Pengalaman afektif dari masa lalu tidak bisa lagi diabaikan. Kesadaran akan perasaan masa lalu dan sekarang dapat menyebabkan keputusan afektif yang berbeda dari kesadaran perasaan saat ini.

Otonomi (kemampuan untuk membuat keputusan sendiri

Otonomi berarti yang diatur oleh diri sendiri, bukan oleh orang lain (Kamii 1982). penalaran Otonomi adalah penalaran sesuai dengan set yang dibangun sendiri dari norma-norma. Lebih bersifat Mengevaluasi ketimbang otomatis menerima nilai-nilai yang dilakukan orang lain. Selain itu, penalaran otonom menganggap orang lain serta diri/ seperti dirinya sendiri (as the self).

Selama tahap praoperasional, anak-anak melihat dan menerima aturan yang diturunkan dari beberapa otoritas yang lebih tinggi seperti orang tua, Tuhan, dan otoritas tinggi lainnya. Keadilan dipandang hidup dengan aturan-aturan tersebut. Moralitas anak di tingkat praoperasional adalah salah satu ketaatan. Anak-anak praoperasional tidak memikirkan tentang apa yang benar atau salah. Bagi mereka, apa yang benar atau salah adalah yang telah ditentukan (otoritas) dan tidak tunduk pada penilaian mereka sendiri. Sangat sedikit interaksi kerjasama, dan yang mendominasi hanyalah ketaatan.

Sekitar usia 7 atau 8, anak-anak mulai mampu membuat evaluasi moral mereka sendiri. Artinya, mereka mulai memikirkan tentang "kebenaran" atau "ketidaktepatan" tindakan dan efek dari tindakan pada orang lain. Ini, tentu saja, tidak berarti bahwa pemikiran mereka tentu benar; itu berarti bahwa mereka mulai berubah dari moralitas ketaatan kepada nilai-nilai yang baru dibangun untuk moralitas kerjasama dan evaluasi.

Saling menghormati adalah agen dalam pengembangan pemikiran otonom yang muncul selama tahap ini. Sampai sekitar usia 7 atau 8 tahun, anak-anak menganggap orang dewasa dengan hormat secara sepihak (menghormati otoritas). Moralitas anak-anak merupakan salah satu dari ketaatan. Saling menghormati adalah rasa hormat antara "sesama." Anak-anak dapat mengembangkan sikap menghormati sesama setelah mereka berhasil untuk melihat cara pandang orang lain.

Orang mungkin menduga bahwa saling menghormati muncul dari tekanan sosial dan pengalaman. Piaget memiliki pendapat yang berbeda, bahwa pengalaman sosial tidak cukup menjelaskan perkembangan ini. Meskipun terdapat perbedaan, masyarakat dewasa biasanya mendorong anak-anak untuk menerima tindakan hormat sepihak untuk kepentingan otoritas orang dewasa.

Orang tua dan guru melihat dengan jelas indikator pengembangan otonomi anak mulai dari konflik dengan orang dewasa seperti mana yang adil dan benar. Seperti halnya anak berumur tujuh tahun yang mengeluh, mengklaim kurangnya keadilan, dimana kakak memiliki sepotong kue yang lebih besar atau begadang dan terjaga diatas jam tidur sering menunjukkan penalaran otonomi.

Otonomi belum sepenuhnya dikembangkan selama tahap operasional konkret. Perasaan otonom awal anak-anak sering datang dari sudut pandang mereka sendiri (egosentris/ kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain). Anak yang sama dalam contoh di atas yang menunjukkan beberapa penalaran otonom ketika berhadapan dengan orang dewasa mungkin tidak menunjukkan ketika berhadapan dengan saudara atau teman sebaya, kecuali ada saling menghormati. Pengembangan lebih lanjut diperlukan sebelum anak menjadi mampu mengambil semua faktor yang relevan menjadi pertimbangan dan memutuskan tindakan yang terbaik bagi semua pihak dan bukan hanya untuk diri mereka sendiri.

Dengan perkembangan kehendak dan otonomi, pergeseran menjadi jelas dalam konsep aturan anak-anak, kebetulan, berbohong, keadilan, dan penalaran moral.

Aturan

Selama tahap sensorimotor, anak-anak tidak memiliki konsep aturan untuk games atau permainan. Selama tahap praoperasional, anak-anak menjadi sadar akan aturan dan permintaan dari orang lain, kepatuhan keras dengan aturan. Mereka melihat aturan sebagai tetap dan permanen, dan ketika mereka bermain game, mereka bermain untuk "menang."

Biasanya usia sekitar 7 atau 8 tahun (tahap awal operasional konkret dari penalaran), anak-anak mulai memahami pentingnya aturan dari permainan. Kerjasama pun mulai muncul. Aturan tidak lagi dilihat sebagai sebagai sesuatu yang mutlak dan tidak dapat diubah. Anak-anak biasanya mengembangkan gagasan bahwa aturan permainan dapat diubah jika semua menyetujui perubahan tersebut. Anak-anak mulai mencoba untuk memenangkan (tindakan sosial) sementara ia masih menyesuaikan dengan aturan permainan.

Dalam upaya untuk memenangkan, anak berusaha mencoba cara diatas semua untuk bersaing dengan pasangannya sambil mengamati aturan umum. Kesenangan tertentu dari permainan berhenti menjadi tegang [tahap 1] dan egosentris [tahap 2] dan menjadi sosial.

Untuk anak yang mulai menunjukkan kerjasama, tujuan dari permainan ini adalah tidak lagi untuk mengetuk kelereng keluar dari lingkaran atau persegi tetapi untuk menang (dalam arti yang kompetitif).

Sementara kerjasama ini terbukti dalam Tahap 3, anak-anak biasanya tidak tahu (belum dibangun) aturan permainan secara detail, dan banyak perbedaan (ketidaksesuaian) yang jelas dalam laporan anak-anak tentang apa aturan itu. Kurangnya kesepakatan tentang aturan dan penekanan pada pemenang dapat diamati secara nyata pada kelompok anak-anak muda yang terlibat dalam permainan. Jika diizinkan, mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu berdebat tentang apa aturannya, dalam upaya untuk menang, daripada menghabiskan waktu untuk bermain game.



Kecelakaan dan Kecanggungan

Sebelumnya telah dicatat bahwa anak-anak praoperasional tidak dapat mempertimbangkan maksud orang lain dalam penilaian mereka tentang kecelakaan. Dengan demikian anak praoperasional yang sengaja menabrak orang lain biasanya memandang tabrakan sebagai kesengajaan daripada kebetulan. Demikian pula, Anak yang memecahkan 15 cangkir lebih nakal dari anak yang hanya memecahkan satu cangkir, terlepas dari niat(maksud) masing-masing anak. Lima belas cangkir rusak lebih buruk dari satu.

Sekitar usia 8 atau 9, ciri anak yang mengembangkan operasi konkrit mulai mengembangkan kemampuan untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Dengan kemampuan ini, maksud (niat) mulai dipahami dan dipertimbangkan ketika membuat penilaian. Maksud (niat) menjadi lebih penting ketimbang konsekuensi dari tindakan. Anak laki-laki yang memecahkan 15 cangkir secara tidak sengaja tidak lagi dipandang "buruk" ketimbang anak laki-laki yang memecahkan satu cangkir melakukan sesuatu dia diberitahu untuk tidak melakukannya.

Sayangnya, pandangan Piaget pemahaman anak-anak dari kecelakaan tidak menawarkan harapan bahwa anak-anak dapat "diajarkan" untuk memahami maksud anak-anak lain. Pemahaman maksud tidak dapat "diajarkan" untuk anak-anak melalui metode verbal. Menurut Piaget, setiap anak harus membangun konsep diluar interaksi aktif dengan orang lain. Teman sangat penting dalam proses ini. Sampai anak menjadi mampu mengambil sudut pandang orang lain, ia tidak bisa membangun konsep intensionalitas. Temuan Piaget membantu kita untuk memahami tanggapan anak-anak untuk kecelakaan dan kecanggungan orang lain, tetapi mereka tidak memecahkan masalah apa yang harus dilakukan tentang perilaku tersebut.



Kebohongan

Dalam tahap operasional, anak melihat kebohongan sebagai sesuatu yang tidak benar. Hal tersebut tidak berlaku hingga sekitar usia 10 atau 11 tahun dimana anak-anak mulai mempertimbangkan maksud-maksud ketika menilai apakah suatu tindakan tertentu adalah kebohongan. Pada tingkat ini, ketidakbenaran yang tidak dimaksudkan untuk menipu tidak secara otomatis dinilai sebagai kebohongan.

Konsep dari kebohongan orang dewasa sangat berbeda dari operational anak. Tersirat dalam perbedaan ini adalah bahwa sebagian besar anak-anak tidak dapat memahami konsepsi orang dewasa tentang kebohongan sebelum mengembangkan pemikiran operasional konkret tengah. Bahkan jika mereka ingin, anak kecil tidak bisa membuat penilaian seperti penilaian orang dewasa tentang kebohongan.

Keadilan

Penelitian Piagets mengungkapkan bahwa konsep anak-anak terhadap keadilan berubah seiring mereka berkembang. Anak praoperasional menganggap aturan sebagai tetap dan tidak berubah. Selama tahap operasional konkret, anak-anak berkembang dengan baik, meskipun sedikit terbatas pada pemahaman terhadap hukum dan aturan. Mereka mulai mempertimbangkan peranan “maksud” dalam memutuskan hal.

Seperti halnya ketika seorang gadis muda menyangkal penggunaan benda-benda yang tersebar di seluruh kamarnya setelah diperintahkan untuk membersihkannya namun tidak melakukannya. Hukuman dalam hal ini tidak sembarangan (semena-menanya); hal ini menghasilkan hubungan dengan perilaku yang dapat dihukum.

Selama anak-anak berkembang dengan efektif, perubahan dapat dilihat pada penalaran moralnya. Perkembangan normatif mempengaruhi kemauan, dan penalaran otonom mempengaruhi moral dan kehidupan efektif dari anak operasional konkret. Anak-anak mengembangkan kemampuan untuk "mengadapasi pandangan orang lain," mempertimbangkan maksud, serta lebih baik beradaptasi dengan dunia sosial.

RINGKASAN

Tahap operasi konkrit adalah masa transisi antara pikiran praoperasional dan pemikiran formal (logis). Selama tahap operasional konkret, anak mencapai penggunaan operasi logis sepenuhnya untuk pertama kalinya. Pemikiran tidak lagi didominasi oleh persepsi, dan anak mampu memecahkan masalah yang ada atau telah ada berdasarkan pengalaman nya.

Anak pada tahap operasi konkrit dapat mengasumsikan sudut pandang orang lain, dan bahasa lisan adalah sosial dan komunikatif. Operasi intelektual penting yang berkembang adalah seriation dan klasifikasi yaitu operasi konkret yang melibatkan stimulus pengurutan di sepanjang dimensi kuantitatif (seperti panjang). Contoh : seoprang guru meletakkan delapan batang lidi dengan panjang yang berbeda-beda secara acak di atas meja. Guru kemudian meminta murid untuk mengurutkan batang itu berdasarkan panjangnya. Pemikir operasional konkret dapat secara bersamaan memahami bahwa setiap batang harus lebih panjang dari batang sebelumnya atau batang sesudahnya harus lebih pendek dari sebelumnya.

Berangkat dari penjelasan singkat atas tahap pengembangan anak yang penulis paparkan sebelumnya dan walaupun secara teoritis sangat menjanjikan, terdapat beberapa kelemahan dari teori piaget seperti (1) Pemikiran anak tidak se konsisten seperti yang piaget sarankan pada teorinya (2) Balita dan anak kecil pada kenyataannya lebih kompeten dari yang Piaget tahu,dan (3) Piaget mungkin baik dalam menggambarkan proses tapi seperti kehilangan sense ketika berbicara mengenai realisasinya (operasinya).


READMORE
 

Background Analysis of Speech Styles Used by Young Female and Male

As a foreign language in Indonesia, English is not a native language nor as a second language in this country, which is taught as a school subject, often widely, but it does not serve as a medium of instruction in schools nor as a language of communication within a country (in government, business, or industries). Teaching English as a foreign language (TEFL) refers to teaching English to students whose first language is not English. TEFL usually occurs in the student's own country, either within the state school system, or privately, e.g., in an after-hours language school or with a tutor. EFL teacher or lecturer may be native or non-native speakers of English.

In this study, the word ‘lecturer’ will be used as a neutral term to refer to anyone who is teaching in English in the university. Thus, it refers to people who may have different titles in the university, such as professors, lecturers, and doctoral students, all of whom have one point in common: they all give lectures in English-medium programs. However the level of academic qualification need not be the most important qualification for EFL lecturers, but they also need to have effective classroom interaction. By having good classroom interaction, they can help students to develop their interaction skills and students themselves can apply various strategies to become effective communicators in a foreign language.

Classroom interaction connects both students and lecturers in process of teaching and learning EFL. Lecturers help students by requests in the classroom and provide them with comprehensible input. Not infrequently by the quantity of young lecturers spread over the universities in Indonesia, the lecturers deal with older students in a classroom. Therefore Andragogy, theory of educating adults in this practice may be applied.

Furthermore, it cannot be denied that lecturers can use some variations of language when they talk to students. That is called as speech style where specifically occured in spoken discourse. By the various style in spoken discourse, it will also influence the materials as the language choice merged with the content of the materials, where the material and the basis of teaching methodology are delivered on an ongoing basis.

The condition that the lecturers use various utterance in teaching EFL toward older students encourages the writer to analyze the speech styles contained in lecturers discourse in the context of teaching English lecture in College. Based on the explanation above, the researcher will conduct a qualitative research entitling: an Analysis of Speech Styles Used by Young Female and Male Lecturers in Teaching English to their Older Students at Islamic State College of Watampone
READMORE
 

Authority and Language: An Analysis of Language Privilege


BACKGROUND

Different status of various kinds of people is a common phenomenon in the world. Sex, power, economy, ethnicity, and age are important factors that influence the dominance on range of groups. A strong group tends to have powerful authority among vulnerable group which the situation does not only become a chit-chat but a custom. It is inevitable that grouping people according to their social level has occurred and establish a system of social class. The effect of different qualification or status also spread in almost every element of human life, including a manner of speaking, style or linguistic features. For instance, a renowned professor is not expected to speak like a person who works in a private factory. A businessman can never use the beggars’ accent when talking to his friends and the driver’s government has no authority to speak to the president without restraint or viceversa. It is a clear distinction that the existence of semantics, syntax, phonology, phonetics, vocabulary or style also has a role to distinguish particular person and their position in the society. Therefore it can be easily to identify who belongs to which level.

Based on the latter case, certain groups organized by people who have powerful levels and in this research will deeply focus on language authority occur among individual or intellectuals who have the power to speak and respected by many people. Differences in rank or position in essence is often influence and determine the person's speaking style. Someone who has a higher position tend authoritative in conveying style of speech, when he said something, although only a single word, a subordinate will follow him without hesitant and this was seen as something natural. On the other hand, language as tool to communicate becoming much more complex phenomenon as it can be learned in order to become more authoritative in its practical (Milroy & Milroy, 1999). This becomes interesting discussion because not infrequently there are people who did not have a high position in the government or any agency but the use of language is often more listened to than people who have a high position in formal organization, in a concrete example illustrated when an individual tends to believe special individual (dignitaries honored in a community) rather than the Member of Parliament (have a power of the legislative function in a country). Speech codes in that situation became a permanent variety hereditary and thus the linguistic feature has gradually strong influences as a result of language Authority.

In educational context, it is nature that students want to study the language especially EFL (English as foreign language) at a major university, but the unique thing that arises when they learn to be more authoritative, it presents a system of authoritarian, namely habit differences in the language used by a fraction of a professor or influential lecturer in academic environment against his interlocutor that his colleague or his students as a low speaker status. Although the matter use of English in communicating in Indonesia country was minimal, but the linguistic features owned by professors certainly not least, considering they have been spending almost half of their life to learn the language and followed by the increase of students who want to learn English (EFL) with varying motives.

As a result of the development of sociolinguistic research in recent years, it has become possible that language phenomenon has grown and at the same time attracted more linguists to continue exploring the existence of the applied linguistic especially in education and not some cases that cultures may be especially affected by sociolinguistic demonstrations of authority. It has been also long recognized that students from a wide variety of cultural backgrounds express concern about their uncertainty and lack of control in social situations involving people in socially powerful positions. The students from different ethnic often being isolated because of discrimination they felt. “Are their faces so different? Do people think they can’t speak English? Moreover the students feel the sense of power distance between themselves and the school environment that do not create a bridge of understanding and competence for successful interaction.

However there only a few expert discussed the authority of language as their primary research, by that reason the researcher interested in investigating something which is largely unknown by using ethnography design where Mackay & Gass in Heigham & Sakui (2009) add that ‘Ethnographic approaches are particularly valuable when not enough is known about a context or situation’. Departing from the issue the researchers took the initiative to examine more deeply about the authority of language that occurs in daily life and all the parts that involved in educational context. The researcher also tried to find out their feelings, expectancies and presumptions to this diverse situation of language usage in the environment . Based on the explanation above, the researcher will conduct an ethnography research entitling Authority and Language: An Analysis of Language Privilege
READMORE
 

Essential Questions in Philosophy



Philosophy, simply stated, is the experience of asking such grand questions about life, about what we know, about what we ought to do or believe in. It is the process of getting to the bottom of things, asking those basic questions about ideas that, most of the time, we simply take for granted, never think of questioning, and probably never put into words. We assume, for example, that some acts are right and some are wrong. Why? We know that it is wrong to take a human life. Why is this? Is it always so? What about in wartime? What about before birth? What about the life of a person who is hopelessly sick and in great pain? What if the world were so overcrowded that millions would die in one way if others did not die in another?

Furthermore, responding to these difficult questions, the answers will reveal a network of beliefs and doctrines that may never have articulated before we first found ourselves arguing about them. Not surprisingly, the first time an individual tries to argue about questions he or she has never before discussed, the result may be awkward, clumsy, and frustrating. That is the point behind philosophical questions in general: to teach us how to think about, articulate, and argue for the things we believe in, and to clarify these beliefs for ourselves and present them in a clear and convincing manner to other people, who may or may not agree with us. Very often, therefore, philosophy proceeds through disagreement, as when two philosophers or philosophy students argue with one another. Sometimes the dispute seems trivial or just a matter of semantics.

However, because what we are searching for a basic knowledge especially in accordance with philosophy of language, with that in mind, let’s begin the discussion with series of somewhat simple but straightforward questions, each of which is designed to think about the questions and express opinions by elaborating what the philosopher have achieved.

Below there are nine questions that the writer will try to elaborate each of them by providing the answer in the next section.
    • What is Philosophy of Science?
    • What is Philosophy of Language?
    • What is Analytic Philosophy of Language?
    • What is Philosophy?
    • What is Ordinary Philosophy of Language?
    • What are the major topics in Philosophy of Language?
    • In what ways is Philosophy of Language different from Linguistic Philosophy, Philosophy of Linguistic, and Language Philosophy?
    • Who are considered philosophers of language; and what are their major concerns or ideas?
    • In what ways will your knowledge on Philosophy of Language contribute to your professional competence as a teacher and/or as a linguist?
    READMORE
     

    Ethnography and Action Research

    INTRODUCTION

    A. Background

    Research is a quest, an attempt to better understand the complex worlds we live in. It is an endeavor that can have the highest possible purpose to help others. In applied linguistics, this means helping language learners, teachers, researchers, materials writers, and program administrators gain a deeper understanding of the multifarious worlds of learning and teaching languages. Qualitative research has evolved over the past three decades into a broad body of knowledge. Within its domain is a wide range of approaches and methods that reflect not only the multiplicity of its root disciplines but also the diversity of contexts and purposes to which it is applied.

    A qualitative to research generally involves the researcher in contact with participants in their natural setting to answer questions related to how the participants make sense of their lives. Qualitative researchers may observe the participants and conduct formal and informal interviews to further an understanding of what is going on in the setting from the point of view of those involved in the study. Ethnographic research shares these qualitative traits, but ethnographers more specifically seek understanding of what participants do to create the culture in which they live, and how the culture develops over time.

    Qualitative and ethnographic research developed in education in the late 1970s. Ethnographic researchers drew on theory and methods in anthropology and sociology, creating a distinction between ethnography of education (work undertaken by anthropologists and sociologists) and ethnography in education (work undertaken by educators to address educational issues). Other forms of qualitative research drew on theories from the humanities and other social and behavioral sciences, adapting this work to educational goals and concerns, often creating new forms (e.g., a field method approach, interview approaches, and some forms of action research).

    The term of Ethnography and Action Research in qualitative research always appear to be essential part of many qualitative discussion, however the research both action research and Ethnoghraphy have their own approach to deal with a certain problem in process of gaining better result. The Action Research for instance have a long story in its development, the research was coined by the social psychologist Kurt Lewin in the United States in about 1944 in connection with research which aimed to promote social action through democratic decision making and active participation of practitioners in the research process. The target group for Lewin's programme of action research was field workers who were trying to improve relations between minority groups in American society. Lewin believed that through action research advances in theory and much needed social change might simultaneously be achieved.

    In addition there is a clear understanding that Ethnography research lies on the scope called culture and Action Research is undertaken in the field of workers, teachers, administrators or supervisors in order to change and improve their own practice. The process of each research will bring the researcher into deeper understanding toward the phenomena occur even in everyday practice. Based on this reason, further explanation will include the process of each research and underlining some of data processing both in Ethnography and Action Research.

    Download full Document here

    READMORE
     

    Common Errors in Academic Writing (CMIIW)





    Here is the example;


        "The objectives of this research are (1) to find out whether the use of Students Team achievement Division (STAD) improve students’ achievement in writing skill at fourth semester of English department (2) to find out whether the use of STAD motivate the students in learning writing skill at fourth semester of English department. 
        This research employed quasi-experimental design. It used two groups, one received treatment STAD and the other group received GI. The subjects of this research were class F and G. These two classes were then taken randomly to represent them as experiment and control group. Class F was chosen as the experimental group consisted of 30 students, while class G was chosen as control group which consisted of 30 students. The data of this research was collected through writing test and questionnaire.
        The result of this research were (1) the use of STAD improved the writing achievement of the fourth semester students in experimental class. (2) The motivation of the fourth semester students as experimental class showed a great positive in learning writing by using STAD. It means that the fourth semester students were motivated in learning writing by using STAD. Most of the students agreed to use of STAD because it could built students’ confidence and finding ideas."

    Try to analyze the paragraph and check your answer then compare with mine in this link (Incorrect Parts)
    READMORE