The Amazing Spiderman


                Peter Parker is an ordinary man, he did not think its presence will give effect to the New York city. Since childhood, he was raised by his uncle and aunt, because his parents died from a plane crash. He lived to be a teenager like most of the people, he was often bullied by his friends and also falling love with a popular and kind woman named Gwen Stacy.
                Peter went to the OSCORP to search for information about his father. In that place he managed to impress DR. Connors by answering the question that to create a world without weakness is needed " Cross-species genetics”, or the regeneration of cells so that they can heal. In the Biocable Development Unit, he accidentally was bitten by an experiment spider. Since the accident,  he had turned out to be more powerful, the response becomes faster, even being highly intelligent, he also helped to solve the DR. Connor’s theory by reducing the rate of decay on the regeneration theory.
                But sometimes the great power come a great responsibility. He does not expect to be left by his uncle forever. Parker was really sad because he ignored the last request of his uncle, and then he decided to find his uncle's murderer. Parker used a mask and thrower nets to catch criminals like the robbers. But the police chief who also is a Gwen's father was annoyed because he disturbed with the arbitrarily activities by masked hero's.
                Meanwhile, Dr. Connors secretly was trying serum of the research. He could grow his right arm, but he is not expected to cause adverse effects which turn him into a monster like lizard. As the result His cell quickly replaced by new cells, Clotting rate vastly improved, marked enhancement in muscle response, strength and elasticity and eyesight similarly improved. The evil thoughts of DR. Connor had to master him that why we should be a weak man if we could be more than that.
                The Monster lizard then carried out its action in the city and destroy anything. It also has big plans to turn people across the city to be like the monster lizard. He launched that serum above the skyscrapers and spread it across the city. Peter realized that he had the power and used it to help others. Since that time the people around the city began to know him as a kind Spiderman and the police also began to trust him.
                The resistance that he did to DR. Connors was success, he managed to prevent and change the serums to be spread over a skyscraper by Dr. Connors with serum antidote, so people who had been infected would return to normal. But that struggle must be paid by Gwen father's death. Peter was very upset for the second time. Moreover he had to promise the last will of Gwen's father to keep away from Gwen, because something bad would happen.
                By his strength, peter was trying to be strong person. He was left by his uncle who also had to leave his beloved girl. It teaches us that the great responsibility for our power then we have to ready to accept the truth even though it was hard to accept such as death.
READMORE
 

Final Sosiologi Pendidikan


READMORE
 

Cara Mudah Menggabung Subtitle Dengan Film (No Ribet)


                Dari pengalaman sebelumnya, saya telah mencari cara agar dapat menggabung subtitle dengan film dapat dilakukan dengan mudah, mulai dari browsing google, blog walking, bahkan sampai streaming video di youtube, saya tidak menemukan cara yang lebih simple dari aplikasi Mkvmerge ini. Kebanyakan aplikasi lain mencoba menggabung video dengan merubah format video dan subtitle itu sendiri, sehingga terkadang hasil convertnya mungkin kurang memuaskan. Namun setelah saya mencoba sendiri aplikasi MKVtoolNix, hasilnya cukup memuaskan dan cara menggunakannya juga sangat mudah, hanya cukup memasukkan kedua file (video & Subtitle) ke MKVtoolnya, terus tekan start muxing.
Dari pada berpanjang lebar, lebih baik download aplikasinya di link berikut ini gan,
-          Link 1
-          Link 2 
         Cukup sekian dulu gan nah and Terima gaji.. XD
ScreenShoot

READMORE
 

Logo STAIN Watampone




READMORE
 

Banner




READMORE
 

Psikologi Kognitif

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Teori-teori belajar bermunculan seiring dengan perkembangan teori psikologi. Salah satu diantara teori belajar yang terkenal adalah teori belajar behaviorisme dengan tokohnya B.F. Skinner, Thorndike, Watson dan lain-lain. Dikatakan bahwa, teori-teori belajar hasil eksperimen mereka secara prinsipal bersifat behavioristik dalam arti lebih menekankan timbulnya perilaku jasmaniah yang nyata dan dapat diukur.
Namun seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan, teori tersebut mempunyai beberapa kelemahan, yang menuntut adanya pemikiran teori belajar yang baru. Dikatakan bahwa, teori-teori behaviorisme itu bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon, sehingga terkesan seperti  kinerja mesin atau robot, padahal setiap manusia memiliki kemampuan mengarahkan diri (self-direction) dan pengendalian diri (self control) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak respon jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati, dan proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan. Hal ini dapat diidentifikasi sebagai  kelemahan teori behaviorisme.
Dari kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam teori behaviorisme dapat diambil suatu pertanyaan, “Upaya apa yang akan dilakukan oleh  para ahli psikologi pendidikan dalam  mengatasi kelemahan teori tersebut ?’’Realitas ini sangat penting untuk dibahas dalam makalah ini.
Untuk itu pembahasan makalah ini diangkat untuk mengungkap masalah-masalah tersebut. Berdasarkan tulisan-tulisan dalam berbagai literatur, ditemukan bahwa para ahli telah menemukan teori baru tentang belajar yaitu teori belajar kognitif yang lebih mampu meyakinkan dan menyumbangkan pemikiran besar demi perkembangan dan kemajuan proses belajar sebagai  lanjutan dari teori behaviorisme tersebut.





B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang kami angkat dalam makalah ini adalah :
1.       Bagaimana Pengertian Psikologi Kognitif itu ?
2.       Bagaimana Perkembangan Kognitif itu ?

C.     Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah agar kita dapat menjelaskan/mendeskripsikan
1.      Pengertian Psikologi Kognitif!
2.      Perkembangan Kognitif!




BAB II
PEMBAHASAN

            Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental atau psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir, seperti dalam memperoleh pengetahuan, mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan, menghadapi masalah atau problem untuk mencari suatu penyelesaian, serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari.

            Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah, yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar, psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar, tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar, untuk mengoreksinya.

            Kehidupan mental atau psikis mencakup gejala-gejala kognitif, efektif, konatif sampai pada taraf psikomotis, baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Gejala-gejala mental-psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri, tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. Oleh karena itu, psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif, tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain, seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar, dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. Namun, dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar di sekolah.
            Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif, maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar, terutama untuk domain kognitif. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi, yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori, yaitu Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif, Dimensi proses kognitif terdiri dari  Mengingat, Pemahaman, Penerapan, Analisis, Evaluasi dan Membuat. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif, yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat, penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman, dan seterusnya.
            Memahami perkembangan kognitif sangatlah diperlukan bagi seorang pengajar dan orang tua. Maka dari itu Situs Belajar Psikologi Mengangkat sebuah judul "perkembangan Kognitif". Sebelum membahas lebih jauh mengenai perkembangan kognitif dan Tahapannya, mari kita mengenal dulu siapa penemu teori Psikologi ini.
            Jean Piaget adalah seorang tokoh besar di bidang psikologi perkembangan terutama dalam bidang perkembangan kognitif anak. Dijelaskan oleh Piaget, dalam memahami dunia mereka secara aktif anak-anak menggunakan skema yaitu sebuah konsep di dalam pikiran seseorang yang digunakan untuk mengorganisasikan dan mengartikan informasi yang didapat dan dapat membantu untuk menginterpretasi dan memahami dunia. Skema bisa berupa skema sederhana maupun skema yang sudah kompleks. Ada dua buah proses yang bertanggung jawab atas cara anak menggunakan dan menyesuaikan skema mereka, yaitu asimilasi dam akomodasi. Asimilasi adalah suatu proses mental dimana anak-anak menambahkan informasi baru kedalam skema yang sudah ada. Pada proses ini anak-anak memasukkan faktor lingkungan ke dalam skema yang telah dimiliki. Akomodasi merupakan suatu proses dalam bentuk penyesuaian yang melibatkan perubahan atau penggantian skema akibat ada informasi yang tidak sesuai dengan skema lama bahkan dapat terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Pada proses ini anak-anak menyesuaikan skema mereka dengan lingkungannya.


            Kemudian konsep Piaget yang lain adalah organisasi yang artinya adalah usaha untuk mengelompokkan perilaku yang terpisah-pisah ke dalam urutan yang lebih teratur dalam sistem fungi kognitif. Setiap level akan diorganisasikan dan perbaikan terus menerus terhadap organisasi ini adalah bagian yang saling bersatu padu dalam perkembangan. Melalui proses asimilasi dan akomodasi sistem kognisi anak berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap lainnya yang lebih tinggi. Kedua proses tersebut juga dilakukan untuk mencapai keadaan ekuilibrium yaitu keadaan dimana terjadi pergereran dari satu tahap pemikiran ke tahap selanjutnya saat anak mengalami konflik kognitif atau disekuilibrium dalam usahanya memahami dunia yang pada akhirnya konflik itu dapat dipecahkan dan anak mendapat keseimbangan pemikiran.
b. Perkembangan Kognitif

Piaget membagi tahap perkembangan kognitif menjadi empat yang masing masing berhubungan dengan usia dan tersusun dari jalan pikiran yang berbeda. Tahapan-tahapan tersebut adalah :

1. Tahap sensorimotor (usia 0-2 tahun)
            Dalam tahap ini pemahaman tentang dunia atau pengalaman diperoleh anak dengan mengorganisasikan pengalaman sensori koordinasi alat indera mereka dengan gerakan otot mereka. Pada tahap ini, anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. Karena bayi lahir dengan refleks bawaan kemudian seiring dengan pertumbuhan mereka skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Ketika bayi, anak-anak tidak dapat membedakan antara dirinya dan dunianya serta tidak memiliki pemahaman tentang kepermanenan objek. Menjelang akhir periode sensorimotor, anak mulai bisa membedakan antara dirinya dan dunia sekitarnya dan menyadari bahwa objek tersebut ada dari waktu ke waktu.


Tahap sesorimotor ini terbagi atas beberapa sub-tahapan yaitu :
1.      Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan                berhubungan terutama dengan refleks.
2.      Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3.      Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4.      Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5.      Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6.      Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

2. Tahap praoperasional (usia 2-7 tahun)
            Tahap ini merupakan tahap pemikiran yang lebih simbolis tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis. Tahap ini dibagi atas dua sub-tahapan yaitu sub-tahap fungsi simbolis yang terjadi kira-kira antara usia 2-4 tahun. Dalam tahap ini anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek yang tak hadir dengan gambaran dan kata-kata tetapi pemikirannya masih bersifat egosentris dan animisme. Hal ini memperluas dunia mental mereka hingga mencakup dimensi-dimensi baru. Egosentris adalah keadaan dimana anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain sedangkan animisme adalah kepercayaan bahwa objek tak bernyawa adalah hidup dan bisa bergerak. Sub-tahapan yang selanjutnya adalah sub-tahap pemikiran intuitif yang terjadi antara usia 4-7 tahun. Piaget menyebut tahap ini sebagai tahap yang intuitif karena anak-anak merasa yakin tentang pemahaman mereka mengenai suatu hal tetepi tanpa menggunakan pemikiran rasional.
            Anak-anak dapat mengklasifikasikan objek hanya menggunakan satu ciri saja, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Pada tahap ini anak juga mulai banyak mengajukan pertanyaan dan ingin tahu semua jawaban dari pertanyaan tersebut.

3. Tahap operasional konkrit (usia 7-11tahun)
            Pada umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit. Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif tetapi hanya dalam situasi konkret. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objek tetapi belum bisa memecahkan problem-problem abstrak.

Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
·        Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
·        Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
·        Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
·        Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
·        Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
·        Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).

4. Tahap operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
            Pada tahap ini diperoleh kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Para remaja ini mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan dengan objek atau saat peristiwanya berlangsung sehingga dapat memecahkan permasalahan yang sifatnya verbal. Selain itu pada proses ini terdapat kemampuan untuk melakukan idealisasi dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan atau spekulasi tentang kualitas ideal yang mereka inginkan dalam diri mereka dan orang lain. Mereka juga mulai berpikir menyerupai ilmuwan. Mereka menyusun rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis munguji solusi-solusi manakah yang dapat berhasil.


BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
   Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental atau psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir, seperti dalam memperoleh pengetahuan, mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan, menghadapi masalah atau problem untuk mencari suatu penyelesaian, serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari.
   Piaget membagi tahap perkembangan kognitif menjadi empat yang masing masing berhubungan dengan usia dan tersusun dari jalan pikiran yang berbeda. Tahapan-tahapan tersebut adalah Tahap sensorimotor (usia 0-2 tahun). Dalam tahap ini pemahaman tentang dunia atau pengalaman diperoleh anak dengan mengorganisasikan pengalaman sensori koordinasi alat indera mereka dengan gerakan otot mereka. Pada tahap ini, anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. Kedua adalah Tahap praoperasional (usia 2-7 tahun) Tahap ini merupakan tahap pemikiran yang lebih simbolis tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis. Tahap ini dibagi atas dua sub-tahapan yaitu sub-tahap fungsi simbolis yang terjadi kira-kira antara usia 2-4 tahun, Ketiga adalah Tahap operasional konkrit (usia 7-11tahun), yang pada umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit. Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif tetapi hanya dalam situasi konkret, dan yang terakhir adalah Tahap operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa), dimana Pada tahap ini diperoleh kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial.



B.     Saran
Hendaknya pengetahuan tentang kognitif siswa perlu dikaji secara mendalam oleh  para calon guru dan para guru demi menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa pengetahuan tentang kognitif siswa , guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkannya di kelas, yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas. Karena faktor kognitif yang dimiliki oleh  siswa merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan siswa melalui kegiatan belajar baik secara mandiri maupun secara kelompok.













READMORE